The Tale of Courtois

Cortuis - beritaligainggris.com

Berita Liga Inggris – Namanya Courtois, anda tak boleh membaca namanya dengan ejaan Indonesia : “cour-to-is”, atau bahkan menyingkat namanya yang memang sangat sulit dengan memanggil pemain ini “kur-tis”! . Cara membaca nama pemain muda Belgia yang cool ini adalah “k(o)u(r)-to(a)”. peringatan : anda harus membaca huruf yang didalam tanda kurung dengan dengungan sungau khas orang Perancis. Yap, Belgia sebagai negara yang berbatasan dengan Belanda dan Perancis memiliki budaya yang merupakan akulturasi dari negara disekitarnya.

Cukup berbicara mengenai namanya yang susah diucapkan oleh orang Asia seperti kita. Kali ini saya akan membahas nasib dan kisahnya. Memang dia bukan pemain sinetron atau seorang wirausahawan yang berangkat dari penjual gorengan. Bukan, dia tidak termasuk dalam deretan orang-orang itu. Courtois pantas kita bahas karena kisahnya sungguh unik.

Dia adalah pemain muda, memiliki skill yang yahud, refleks seperti kucing loncat, dan terkenal di Spanyol, khususnya la Liga. Courtois adalah prototype sempurna bagi seorang kiper di liga besar Eropa, setidaknya Liga Spanyol. Namun dibalik semua yang ada dalam dirinya, ada satu kenyataan yang sedikit pahit, dia dianggap belum layak oleh sebuah klub Inggris. Courtois sejatinya adalah pemain resmi Chelsea Football Club yang berkedudukan di London Barat dengan Stadion Stamford Bridge sebagai markas besarnya. Tapi sayang sekali, dia tak pernah merasakan sekalipun merumput di stadion kecil (hanya bertempat duduk 40.000 kursi) tapi berada di salah satu wilayah elite London.

Chelsea menariknya ari Racing Genk, klub yang sering kita kenal namanya bila bermain game fantasy football macam Football Manager. Dia didatangkan pada tahun 2011, sebelum didatangkan Chelsea, meskipun istimewa, Courtois jarang sekali mendapatkan highlight atas bakat yang dimilikinya. Setelah resmi menjadi pemain Chelsea, secara murah hati Chelsea meminjamkannya ke Atletico Madrid. Saat itu Atletico memang mengalami krisis penjaga gawang utama karena kiper hasil produk binaan akademi mereka, David de Gea, ditransfer ke Manchester United dengan nilai 18,9 juta pounds. Jumlah yang besar untuk ukuran kiper yang masih berumur 20 tahun. Berita Liga Inggris

Atletico Madrid butuh kiper utama dan Courtois bisa mendapatkan jam terbang lebih banyak di Spanyol, demi memastikan agar bakatnya tak sia-sia. Well, kecuali bila anda sangat gila untuk memberikan posisi penjaga gawang utama pada seorang pemuda 20 tahunan untuk mengarungi Liga Inggris yang memiliki pemain bertubuh raksasa, pilihan Chelsea sangat logis, dan demi kebaikan ketiga pihak, Atletico Madrid, Chelsea, dan paling utama Courtois sendiri.

Saat melihat Courtois memakai seragam los rojiblancos di tahun pertamanya bersama Atletico, saya merasa déjà vu, postur Courtois tak jauh beda dengan de Gea, begitu juga dengan ketenangan dan kemudaan yang mereka miliki. saya yakin kalau dia bisa mengembang tanggung jawab sebagai kiper utama Atletico dengan sangat baik.

Sampai sekarang Courtois telah mencatatkan namanya dalam 52 pertandingan resmi Atletico Madrid. Bukan hanya tampil dalam jumlah pertandingan yang bisa dibilang banyak, beragam prestasi tim dan individual telah ditorehkan oleh anak Belgia ini. Courtois berhasil membantu Atletico juara Europa League di tahun pertamanya berseragam Atletico. Falcao yang tajam didepan dan Courtois yang kokoh dibelakang, cukup untuk memboyong piala kejuaraan Eropa’kelas dua’ itu. Prestasi yang dibawa di musim pertama belum cukup, disela-sela menuju musim keduanya di Atletico, dia merasakan manisnya mengalahkan klub yang meminjamkannya, Chelsea, saat bertemu di Piala Super Eropa. Falcao memang menjadi nama utama yang menghancurkan kepala botak Roberto di Mateo, tapi Courtois memungkinkan calon rekan-rekannya tak mencetak banyak gol.

Di musim keduanya merasakan atmosfir La Liga, Courtois membawa rojiblancos menjuarai Piala Raja dengan mengalahkan calon manajernya di London, Atletico memutus rekor buruk tak pernah menang atas Madrid sejak tahun 1999, kemenangan diraih lewat cara yang elegan. Courtois membuat pemain Madrid frustasi dan menjaga gawangnya tetap perawan. Madrid yang kalah dan tak mendapat satu gelar pun merelakan Mourinho pergi dan kembali ke London.

Dengan segudang kehebatannya plus trofi Zamora, dia masih belum mendapatkan tempat di London Barat. Entah sampai kapan karena usia Petr Cech baru 31 tahun, angka yang terbilang muda untuk seorang kiper. Berita Liga Inggris