Pemain Didikan Bayern Tidak Kalah Dengan Pemain Barca
Siapa yang tak tahu klub raksasa Spanyol, Barcelona. Semua orang sudah tahu para pemain bintang yang telah mereka didik. Banyak yang menilai jika Barcelona menjadi salah satu klub yang memiliki banyak gudang pemain handal. Barcelona dengan La Masia-nya sudah mengundang decak kagum dunia lewat pemain-pemain yang mereka hasilkan. Kini Bayern Munich mengklaim kalau pemain-pemain didikan mereka juga tak kalah bagusnya. Dari era Xavi Hernandez, sampai Andres Iniesta, Lionel Messi, Sergio Busquets, Gerard Pique, Pedro Rodriguez, dan hingga yang paling anyar seperti Thiago Alcantara dan Isaac Cuenca, Barca telah menunjukkan diri sebagai salah satu klub yang sukses menelurkan pemain berbakat. Hasil di lapangan pun berbicara dengan sendirinya mengenai sukses itu.
Permainan apik Barca disebut tak lepas dari solidnya skuad dan betapa pahamnya pemain-pemain binaan klub mengaplikasikan filosofi klub dalam permainan. Hasilnya, tiga gelar La Liga dan dua gelar Liga Champions sejak tahun 2009 berhasil mereka raih. Trofi-trofi itu pun masih ditambah dengan dua gelar Kejuaraan Dunia Antarklub. Bayern, yang belakangan juga banyak memasukkan para pemain didikan mereka ke tim utama, mengklaim jika didikan mereka sama bagusnya. Presiden Bayern, Uli Hoeness, menyebut bahwa nama-nama seperti Thomas Mueller, Toni Kroos, dan David Alaba punya potensi untuk mengangkat klub, sama seperti yang dilakukan Iniesta dkk. di Barca.
“Orang-orang hanya berbicara soal Barcelona dan talenta muda mereka. Tapi, kami juga tidak buruk,” ujar Hoeness kepada DPA. “Lihat saja tim kami saat ini: (Bastian) Schweinsteiger, (Philipp) Lahm, Mueller, (Holger) Badstuber, Kroos, dan Alaba,” lanjutnya.
Mueller telah menunjukkan bahwa dirinya pemain depan jempolan sejak musim 2009/10 dan pada Piala Dunia 2010 lalu. Sementara kini, giliran Kroos yang unjuk kebolehan sebagai salah satu gelandang serang terbaik di Bundesliga. “Kroos telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Jika Anda ingin mengejar Barca, Anda butuh pemain seperti dia,” tukas Hoeness.
Setelah Pecat Pemain yang ‘Curi Sampo’, Freiburg Juga Depak Pelatih
Pemecatan kembali dilakukan Freiburg. Setelah minggu lalu memutus kontrak seorang pemainnya yang “mencuri sampo”, klub papan bawah Liga Jerman itu memberhentikan pelatihnya, Marcus Sorg. Sorg didepak setelah dinilai buruk menangani Freiburg di paruh pertama musim ini. Dari 17 pertandingan mereka cuma mendapatkan 13 poin dan menunggui dasar klasemen. Di musim lalu, dengan skuad nyaris sama, mereka finis nomor sembilan.
Dalam sejarahnya di Bundesliga, ini adalah kali pertama Freiburg memecat pelatih. Figur yang digantikan Sorg adalah Robin Dutt, yang meninggalkan Badenova-Stadium untuk bergabung dengan Bayer Leverkusen. Sebelum dilatih Dutt, Freiburg ditangani Volker Finke dari 1991 sampai 2007, yang menjadikan dia sebagai manajer terlama yang pernah menukangi sebuah klub dalam sejarah sepakbola profesional di Jerman.
Dalam pernyataannya, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (29/12/2011), direktur sport Freiburg, Dirk Dufner, sekaligus mengumumkan kebijakan klub untuk mempromosikan asisten pelatih Christian Streich sebagai pelatih kepala, menggantikan Sorg. Minggu lalu Freiburg juga memberhentikan seorang pemainnya, Yacine Abdessadki, terkait insiden di sebuah hotel di kota Koeln, saat tim mereka menginap pada 10 Desember. Gelandang Maroko kelahiran Prancis itu didakwa mencuri empat botol sampo dan merusak dispenser di kamar mandi kamar hotelnya.
Dalam pembelaannya, Abdessadki mengatakan bahwa saat mandi ia mendapati dispenser samponya kosong. Ia lalu ke kamar sebelahnya, yang ditempati kapten Heiko Butscher dan Jonathan Schmid, untuk memperoleh sampo. Teman sekamarnya, Garra Dembele kemudian pergi ke lobi hotel untuk meminta beberapa botol sampo. Menurut versi Freiburg, mereka tidak mau mengganti kerugian dispenser sampo, yang diklaim pihak hotel sengaja dirusak oleh Abdessadki. Klub merasa hal memalukan itu tidak pantas dilakukan oleh seorang pemain profesional, dan sebab itu memecatnya.
