Taylor Kecewa Dengan Presiden FIFA
Chief executive PFA (Asosiasi pemain professional Inggris), Gordon Taylor mengaku kecewa dengan pernyataan Presiden FIFA Sepp Blatter untuk menuntaskan perkara rasisme di lapangan hijau. Orang nomor satu di Federasi sepakbola tertinggi di dunia itu sempat menyatakan, perkara rasisme bisa diselesaikan dengan berjabat tangan antar pemain. Bersebrangan dengan Taylor, dia menganggap tindakan tersebut bukan cara tepat untuk menuntaskan isu rasisme.
Terkesan terlalu meremehkan perkara hak azasi manusia, Taylor mengutarakan kekecewaanya terhadap Blatter. “Kami telah memperlakukan dengan serius masalah itu,” ketus petinggi PFA , Kamis (5/1/2012). Taylor pun meletakkan ekspektasi, tindakan tegas rasisme di olahraga, khususnya sepakbola bisa diimplementasikan di segala aspek kehidupan bermasyarakat. “Rasis merupakan isu serius. Ada pengadilan dalam kasus ini yang bisa membuktikannya dan kami ingin olahraga mungkin bisa memberikan contoh terbaik,” sambungnya.
“Ini merupakan kekecewaan setelah Blatter berkomentar. Tetapi, protes di seluruh dunia tidak selalu sama. Kami semua tahu, kata ‘negro’ memiliki arti yang bisa menimbulkan kemarahan,” tuturnya. Berangkat dari kasus rasisme Luis Suarez terhadap Patrice Evra, Taylor berharap banyak setiap pemain tidak lagi mengucapkan kata berbau rasis di dalam lapangan, sekalipun berada dalam tingkat emosional tinggi.
“Setiap referensi yang mengacu kepada warna kulit dari seseorang harus dihilangkan. Dalam panasnya pertandinggan, apapun bisa dikatakan. Tetapi terkadang, mereka melampaui apa yang dapat diterima,” tukas Taylor. “Kami telah berkampanye selama 20 sampai 30 tahun melawan rasisme. Saya berharap kami bisa bergerak maju dari masalah ini dan menjadikannya bahan pelajaran,” tuntas Taylor mengakhiri.
PFA: Petik Pelajaran dari Kasus Suarez
Aksi rasisme Luis Suarez terhadap Patrice Evra memantik Chief Executive PFA (Asosiasi pemain professional Inggris) Gordon Taylor angkat bicara. Intinya, Taylor berharap banyak kasus rasisme Suarez di lapangan hendaknya menjadi pelajaran bagi para pemain lainnya. Selain bursa transfer musim dingin, kasus rasisme penyerang Liverpool itu belakangan memang menghiasi suratkabar di Inggris. Maklum, Suarez harus menjalani hukuman berat, imbas dari perkataan kasarnya kepada Evra.
Pemain asal Uruguay itu dijatuhi hukuman delapan kali bertanding plus denda sebesar 40 ribu pound, setelah terbukti mengucapkan kata ‘Negro’ kepada Evra, saat keduanya terlibat kontak fisik dalam laga Manchester United vs Liverpool, Oktober 2011 silam. Berangkat dari sanksi yang dijatuhi Federasi sepakbola Inggris (FA), Taylor meminta kepada segenap pemain agar mengambil hikmah besar dari kasus ini,khususnya pemain dari luar Inggris.
“Ini pelajaran kepada semuanya. Pemain yang datang ke pertandingan dari negara yang berbeda harus memahami dan menerima bagaimana kami tentang kesetaraan dan keragaman,” ketus Taylor, Kamis (5/1/2012). Taylor meminta, setiap pemain menerima perbedaan kultur budaya antar individu dan menghormati hak asasi pemain lainnya dari berbagai penjuru dunia yang datang untuk merumput di Premier League.
“(Liga Inggris) mungkin menjadi permainan multi kultur terbesar di dunia. Jadi sangat penting membuat contoh yang tepat,” Taylor melanjutkan. “Kami tidak ingin dia (Evra) merasa terintimidasi. Kami ingin pemain berkulit hitam merasa nyaman. Rasisme bisa diatasi dalam hal sepakbola, yang telah diatur dalam hukum negara,”ujarnya.
Kendati demikian, Taylor pun menyadari, masih sulit mencari jalan keluar atas isu rasisme. Menurutnya, sulit mencari pembenaran atas kasus ini yang bisa saja timbul dari kesalahpamahan antar pemain pemain. “Beberapa isu lebih besar dibanding pemain, klub atau pertandingan dan rasisme salah satunya. Kami harus belajar tentang itu yang seharusnya tidak menjadi kesalahpahaman atau ambigu di masa mendatang,” urai Taylor.
Taylor pun menyatakan, hukum di Inggris turut merespon masalah rasisme yang harus dipatuhi semua warga negara termasuk imigran dan kelas pekerja. “Anda tidak ingin beberapa isu terpisahkan dari klub atau masyarakat. Kami merupakan sebuah keluarga dalam sepakbola tetapi kami semua berada di bawah payung hukum di negara ini.” “Setelah hukuman selesai, kami harus bergerak maju dalam cara positif untuk memastikan, hukuman sebagai proses pencegahan serta proses edukasi masih harus terus berlanjut,” tuntas Taylor.
Categories: Sepakbola Dunia Tags:
McClaren Kembali Tangani Twente
FC Twente pernah menuai sukses saat dilatih Steve McClaren. Kini setelah satu tahun lebih berpisah, McClaren kembali menangani klub Eredivisie Belanda itu. McClaren setuju menandatangani kontrak untuk melatih Twente dengan durasi kontrak 2,5 tahun setelah klub itu memecat Co Adriaanse awal pekan ini. Pemecetan Adriaanse cukup mengejutkan karena Twente sendiri relatif tampil bagus di liga musim ini dan kin ada di posisi ketiga dengan 33 poin. Selisih lima poin dari AZ Alkmaard di puncak dengan baru 17 laga berlalu.
Dengan ditunjuknya McClaren maka ia akan bernostalgia dengan klub yang dibawanya meraih juara Liga Belanda pada musim 2009/2010 dan jadi gelar Eredivisie pertama klub berjuluk The Tukkers. Di musim panas 2010 McClaren memutuskan menerima pinangan VFL Wolfsburg, namun tak bertahan hingga hingga akhir musim karena dipecat duluan akibat penampilan buruk timnya.
Setelahnya ia ditunjuk melatih Nottingham Forest musim panas lalu dengan kontrak 3,5 tahun. Tapi lagi-lagi McClaren gagal membawa Nottingham tampil baik di Championship musim ini dan berada satu tingkat di atas Zona Degradasi. Ia pun mengundurkan diri Oktober lalu.
Milan Taklukkan PSG 1-0
AC Milan sukses meraih trofi Dubai Football Challenge untuk ketiga kalinya, setelah mengalahkan Paris St Germain dengan skor tipis 1-0, Rabu (4/1/2012) malam WIB. Laga tersebut dihelat dalam rangka pemusatan latihan kedua tim di Dubai. PSG menyambut debut pertama Carlo Ancelotti sebagai pelatih barunya, setelah resmi diangkat awal tahun.
Baru empat menit laga berjalan Milan sudah unggul berkat gol Alexandre Pato. Diawali akselerasi Zlatan Ibrahimovic ke jantung pertahanan PSG. Ia kemudian mengoper bola kepada Pato. Pato balik mengoper lagi ke Ibra dan sedikit melebar ke kiri, Ibra kemudian mengirimkan umpan ke depan gawang. Pato yang tak terkawal dengan mudah menceploskan bola ke jala Salvatore Sirigu.
Setelahnya pertandingan berjalan relatif seimbang dan PSG pun kerap menciptakan peluang lewat dua pemain andalannya, Nene dan Javier Pastore. Milan memperoleh peluang lewat Antonio Nocerino di menit 18, tapi bola hasil sepakan kerasnya masih menerpa mistar. Khususnya Nene yang begitu aktraktif di babak kedua lewat dua peluang. Satu tendangan kerasnya dari luar kotak penalti masih bisa ditepis Christian Abbiati dan sebelumnya sepakannya dari jarak dekat juga sukses dihadang Abbiati.
Gelar tahun ini adalah yang ketiga bagi Milan, setelah meraihnya tahun 2009 dan 2010. Satu tim lagi yang pernah menjuarai ini adalah Hamburg pada 2007 dan 2008.
Susunan pemain
Milan Babak Pertama: Amelia; De Sciglio, Mexes, Thiago Silva, Taiwo; Aquilani, Van Bommel, Nocerino; Robinho; Ibrahimovic, Pato
PSG: Sirigu; Ceara, Sakho, Bisevac, Tiene; Sissoko, Bodmer; Jallet, Pastore, Nen�; Hoarau
Milan Babak kedua: Abbiati; Zambrotta, Nesta, Bonera, Antonini; Gattuso, Ambrosini, Emanuelson; Valoti; El Shaarawy, Inzaghi
Categories: Sepakbola Dunia Tags:
Ribery Kecewa Rues Gabung Dortmund
Pentolan Bayern Munich, Franck Ribery mengaku kecewa melihat keputusan Marco Reus yang memilih bergabung ke Borussia Dortmund dari Borussia M’Gladbach pada bursa transfer musim dingin ini. Maklum, Reus sebelumnya menjadi pemain incaran Munich. Berbagai upaya pun ditempuh FC Hollywood untuk mendapatkan jasa ujung tombak muda 22 tahun tersebut. Sial, upaya Munich mendaratkan Reus terhenti setelah BVB mengikatnya dengan kontrak permanen hingga 2017 mendatang.
Tidak main-main, Die Borussen dilaporkan merogoh kocek 17,5 juta euro untuk mendapatkan jasa mantan pemain timnas Jerman U-21 tersebut. Rencananya, Reus akan bergabung dengan Dortmund pada musim depan. “Ini sangat disayangkan. Saya lebih senang, dia memutuskan bergabung dengan Munich,” kata Ribery dikutip TZ, Kamis (5/1/2012). Senada dengan Ribery, Holger Badstuber hanya bisa geleng-geleng kepala melihat langkah ke depan Reus yang memilih berkostum Dortmund. Akan tetapi, Badstuber kembali mengingatkan, semua pihak harus menghormati keputusan Reus.
“Pemain telah memutuskannya dan memiliki alasan bagus untuk itu. Kami harus bisa menghormati keputusannya. Ini sangat disayangkan, meskipun sebagai muda Jerman dan dia sangat pantas main di Munich,” tuntas bek muda Die Bayern tersebut. Jangan heran, bila Reus menjadi rebutan raksasa Bundesliga menyusul penampilan gemilangnya di hingga paruh musim ini. Reus sukses menyarangkan 10 gol dalam 15 pertandingan yang membuat namanya mulai diperhitungkan klub mapan dari Bavaria itu.
“Banderol Goetze Kemahalan”
Sadar akan Mario Goetze sedang menjadi incaran sejumlah klub-klub top Eropa, Borussia Dortmund segera memagarinya dengan banderol tinggi. Dortmund mematok harga Götze sebesar 40 juta euro. Götze sedang menjadi prospek panas, pada bursa transfer kali ini. Sebut saja Arsenal, Barcelona, Real Madrid dan Bayern Munich juga sempat meminatinya. Tapi belakangan, Bayern menarik ketertarikannya.
Bagi petinggi Bayern, Uli Hoeneβ, banderol sebesar 40 juta euro, adalah angka yang ‘gila’. Mungkin banderol sebesar itu tidak terlalu menjadi masalah untuk tim Spanyol atau Inggris, tapi di Jerman, banderol sebesar itu, bukan hal yang lazim. “Memasang harga 40 juta euro (USD 52 juta) atau mungkin dilebihkan – kami tidak akan pernah melakukan itu, karena terlalu mahal. Mungkin harga transfer yang tinggi, berjalan di Spanyol atau Inggris, tapi selama ini, tidak dengan Jerman,” papar Hoeneβ, seperti dikutip Super Sport, Kamis (5/1/2012).
Ya, seperti yang diuraikan di atas, harga sebesar itu tidak lazim dalam sepakbola Jerman. Terlebih jika hanya ingin ‘memaksa’ seorang pemain untuk terus menetap. Jika terjadi, hal itu dinilai tidak sehat, karena terkesan menghilangkan kesempatan seseorang untuk berkembang di tempat lain. “Kami tidak ingin hal ‘gila’ itu terjadi hanya karena ingin mempertahankan pemain muda Jerman di tanah Jerman dengan cara apapun,” tambahnya.
Selain itu, Hoeneβ mengungkapkan alasan Die Roten, untuk mundur dari medan perebutan Götze. Baginya, belum saatnya Munich berambisi mendapatkannya, karena Munich masih punya banyak ‘stok’ gelandang mumpuni. Tentunya, Bayern tak ingin membiarkan talenta hebat seperti Götze hanya menjadi penghuni bench. “Jika mendapatkannya sekarang, di mana dia harus kami mainkan di dalam tim kami?,” tuntas Hoeneβ.
Categories: Sepakbola Dunia Tags:
